Kesalahan Saat Mengasuh Balita



Anda dapat menghindari aneka kesalahan mengasuh anak terutama saat mereka berusia balita (bawah lima tahun).

Sebagai manusia, kita tak dapat menghindari kesalahan. Kita belajar dari pengalaman dan aneka pengalaman itu pula yang membuat kita bisa menghindari kesalahan yang sama di masa depan. Begitupula saat kita belajar menjadi orangtua, akan ada aneka kesalahan yang kita perbuat.

Tapi sebaiknya agar pertumbuhan dan perkembangan mental anak menjadi sempurna, Anda dapat menghindari aneka kesalahan mengasuh anak terutama saat mereka berusia balita (bawah lima tahun).

1. Tidak konsisten
Ketidakkonsistenan membuat anak merasa kebingungan. Contohnya saat kita pergi ke mini market, Anda telah menjanjikan kepada si kecil akan membelikan es krim jika ia tidak nakal. Pada kasus ini Anda telah mengajarkan hadiah dan konsekuensinya.

Tapi jika Anda tak menepati janji, anak akan belajar dua hal, pertama ia tak dapat mempercayai Anda lagi, atau ia harus melakukan sesuatu seperti berteriak, menangis atau terus menagih hingga Anda akhirnya menepati janji.

Memang sulit menjadi konsisten, tapi cobalah menjadi konsisten dan jujur di setiap kesempatan bersama anak serta apa yang akan kita ucapkan kepada mereka. Anak akan belajar bagaimana menjadi konsisten sekaligus jujur dari kedua orangtuanya.

2. Kurang peduli
Kapan terakhir kali Anda menyatakan rasa sayang kepada si kecil? Pernahkah Anda merasa bangga dengan prestasi serta kemampuan mereka? Ternyata penghargaan sekecil apapun itu akan memompa semangat dan kepercayaan diri anak.

Kesalahan kita sebagai orangtua adalah memandang remeh hal ini, karena menganggap anak pasti mengetahui kalau kita amat mencintai mereka. Tapi sikap positif bisa membuat perbedaan yang begitu besar pada anak. Si kecil akan merasa aman, didukung, dicintai serta dihargai oleh orangtuanya. Ayo cobalah mulai sekarang berikan dukungan sekecil apapun pada buah hati kita.

3. Terlalu banyak memberikan bantuan
Kadangkala karena kita merasa takut anak akan gagal, kita justru memberikan terlalu banyak bantuan. Memang hal ini amat wajar, tapi secara bertahap biarkan mereka menjadi mandiri secara wajar.

Saat anak menghadapi kesulitan memecahkan puzzle misalnya atau membuka kotak mainan, cobalah biarkan hingga ia meminta pertolongan. Bantuan yang terlalu banyak kita berikan justru akan menjadi bumerang dan membuat anak justru menjadi sulit berkembang.

4. Sedikit waktu luang untuk anak
Ini adalah kesalahan yang umum terjadi dan sering diulangi oleh banyak orangtua. Pada kasus kedua orangtua yang bekerja, anak akan ditemani oleh pengasuh, kakek dan nenek atau orang lain.

Apa yang dibutuhkan anak adalah kedua orangtuanya. Untuk mensiasatinya berikan waktu berkualitas bagi anak saat Anda ada di rumah.

5. Tak mengawasi pola makan anak
Kesehatan serta pemberian nutrisi yang baik berawal dari rumah. Awasi pola makan anak dan berikan mereka makanan bernutrisi seperti buah segar, sayuran segar, susu, jika memungkinkan berikan makanan empat sehat lima sempurna.

Aneka makanan tersebut akan menguntungkan bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

6. Terlalu cepat mengajarkan toilet training
Anak akan belajar secara otomatis mengenai hal itu dan mereka akan memberikan Anda tanda-tandanya.

Anda bisa mulai mengetahuinya saat si kecil mampu menahan pipis lebih lama, bangun tidur tanpa mengompol, mengerti bagaimana menurunkan celana saat mau pipis dan lain-lain. Aneka hal itu merupakan pertanda si kecil siap untuk belajar toilet training.

Terlalu cepat mengajarkan anak toilet training justru membuat anak merasa kesal dan frustasi begitu pula dengan kita sebagai orang tua. Anak bisa mulai diajarkan ke belakang sejak usia 18 bulan hingga tiga tahun. Tapi setiap anak berbeda dan unik satu sama lainnya. Sehingga perhatikan tanda-tanda kesiapan anak sebelum memulai toilet training.

7. Berbeda pendapat
Semua anak akan mengalami tantrum. Tidak berguna untuk berbicara dengan mereka pada saat seperti itu. Memarahi anak justru memberikan pandangan negatif dari mereka kepada kita. Cobalah menahan diri dan gunakan cara lain untuk mengalihkan perhatiannya dan ajarkan disiplin.

Tapi ingatlah, jangan memberikan hadiah setelah anak mengalami periode tantrum. Itu hanya akan membuktikan pada mereka kalau tantrum memang efektif untuk memperoleh sesuatu dari orangtuanya. Cobalah memberikan pujian verbal pada anak untuk menenangkan mereka.

Anak juga merasa lebih rapuh setelah mengalami tantrum. Ini akan mereka rasakan karena menganggap tak disayang. Berikanlah pelukan dan kasih sayang pada buah hati Anda agar mereka dapat merasa lebih tenang.

8. Terlalu banyak menonton televisi
Memberikan waktu menonton televisi juga merugikan bagi anak. Studi menunjukkan anak dibawah dua tahun tak bisa mengerti apa yang ada di layar televisi atau monitor komputer. Perkembangan awal anak adalah masa krusial bagi pertumbuhan otak serta tingkah laku mereka.

Menonton televisi pada periode ini justru membuat mereka terbiasa pada kebiasaan yang buruk dan tidak sehat di masa depan. Karena terbiasa menonton televisi dalam waktu yang lama membuat anak menjadi terbiasa melakukannya saat mereka menjadi semakin besar.

9. Tak membuat perubahan
Jangan lakukan kesalahan yang sama berulangkali. Jika Anda melihat tak ada perubahan pada perilaku anak atas cara kita menangani mereka, lakukan perubahan pada cara kita menangani mereka, perhatikan reaksi anak.

Memukul atau melakukan hukuman fisik sebagai tindakan mendisiplinkan anak takkan efektif dan hanya akan menjauhkan Anda dengan anak. Hindari kekerasan saat menangani tingkah laku si kecil.

Kesalahan memang bakal terjadi dan kita sebagai orangtua tak bisa selalu benar. Tapi kita selalu bisa belajar dari kesalahan kita. Selalu akan ada kesempatan kedua. Cobalah belajar dari kesalahan itu dan menjadi panutan bagi anak sehingga mereka akan mencontoh kita dalam proses pembelajaran anak menjadi dewasa.

ads

Ditulis Oleh : nyamidi ngasem Hari: 15.44 Kategori:

0 komentar:

Posting Komentar

 

Pengikut

About